Jakarta || Corongkita.com – Indonesia menegaskan pentingnya kerja sama keamanan yang inklusif, konstruktif, dan saling menguntungkan di tengah perubahan lanskap keamanan global yang semakin kompleks. Komitmen tersebut disampaikan Delegasi Republik Indonesia (Delri) dalam sesi pleno The 14th International Meeting of High-Ranking Officials Responsible for Security Matters yang berlangsung di Moskow, Rusia, Kamis (28/5/2026).
Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi agenda utama dalam rangkaian The 1st International Security Forum (ISF) 2026 yang diselenggarakan di bawah naungan Dewan Keamanan Federasi Rusia. Forum itu dihadiri para pejabat tinggi keamanan, penasihat keamanan nasional, serta menteri dari lebih dari 120 negara dan organisasi internasional.
Delegasi Republik Indonesia dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Letjen TNI Tri Budi Utomo, dan diikuti perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Kementerian Luar Negeri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Dalam kesempatan tersebut, Letjen TNI Tri Budi Utomo menyoroti dinamika keamanan global yang tengah mengalami perubahan signifikan. “Dunia saat ini berada dalam transisi besar. Kekuatan menjadi semakin tersebar, namun lanskap internasional juga semakin terfragmentasi, tidak pasti, dan kompetitif. Karena itu, kerja sama keamanan harus dibangun secara praktis, konstruktif, dan saling menguntungkan,” ujar Letjen TNI Tri Budi Utomo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polkam, Duta Besar Mohammad K. Koba, menyampaikan pandangan Indonesia terkait tantangan geopolitik global dan pentingnya menjaga stabilitas internasional di tengah transisi menuju tatanan dunia multipolar.
Menurut dia, perubahan struktur kekuatan global perlu dikelola secara bijaksana agar tidak memicu konfrontasi maupun memperdalam fragmentasi antarnegara.
“Indonesia meyakini transisi menuju multipolaritas harus dikelola secara bijak. Multipolaritas tidak boleh menciptakan konfrontasi blok maupun memperdalam fragmentasi, tetapi harus membuka ruang lebih besar bagi dialog, saling menghormati, dan kerja sama praktis,” ujar Duta Besar Mohammad K. Koba.
Dalam forum tersebut, Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat kerja sama internasional dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan nontradisional. Sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain keamanan maritim, ketahanan rantai pasok, keamanan pangan dan energi, keamanan siber, serta perlindungan infrastruktur kritis nasional.
Selain itu, Indonesia kembali menegaskan komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif serta dukungan terhadap arsitektur kawasan yang terbuka, inklusif, transparan, dan berbasis aturan. Sikap tersebut sejalan dengan prinsip Sentralitas ASEAN (ASEAN Centrality) dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
Melalui partisipasi dalam International Security Forum 2026, Indonesia menegaskan pentingnya memperkuat komunikasi strategis dan membangun rasa saling percaya antarnegara sebagai fondasi dalam menjaga stabilitas, perdamaian, dan keamanan global yang berkelanjutan.
(Sumber : infopublik.id)












