Jakarta || Corongkita.com – Paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang digulirkan pemerintah dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Namun, stimulus fiskal saja dinilai belum cukup untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai arah stimulus pemerintah sudah tepat karena menyasar dua fondasi utama ekonomi nasional, yakni konsumsi rumah tangga dan pasar tenaga kerja.
Menurutnya, komposisi stimulus yang berfokus pada bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi menunjukkan pemerintah memahami tantangan utama ekonomi Indonesia saat ini.
“Paket ini menunjukkan pemerintah memberikan perhatian pada kondisi rumah tangga Indonesia. Dalam situasi ketidakpastian global yang masih tinggi, menjaga daya beli masyarakat menjadi sangat penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Fakhrul, dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, bantuan pangan bagi kelompok rentan berpotensi memberi dampak langsung terhadap konsumsi masyarakat berpendapatan rendah. Sementara itu, program magang dan vokasi dapat membantu kelompok yang terdampak perlambatan aktivitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan struktur pasar.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan bahwa stimulus fiskal pada dasarnya hanya berfungsi sebagai penyangga jangka pendek untuk menjaga momentum ekonomi. “Stimulus dapat membantu menjaga pertumbuhan dalam beberapa kuartal ke depan, tetapi pada akhirnya stimulus hanya membeli waktu,” katanya.
Menurut Fakhrul, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tetap bergantung pada faktor yang lebih fundamental, seperti investasi, penciptaan lapangan kerja produktif, dan peningkatan produktivitas nasional.
Ia menilai efektivitas stimulus akan jauh lebih besar apabila dibarengi dengan penguatan stabilitas makroekonomi dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
“Perekonomian Indonesia membutuhkan kombinasi antara perlindungan terhadap daya beli masyarakat dan penguatan kepercayaan pasar. Rumah tangga membutuhkan dukungan konsumsi, sementara dunia usaha membutuhkan kepastian untuk kembali melakukan ekspansi dan investasi,” jelasnya.
Fakhrul menekankan bahwa stimulus saat ini sebaiknya menjadi jembatan menuju reformasi ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar respons sementara terhadap tekanan global.
Ia menyarankan pemerintah untuk melanjutkan normalisasi fiskal secara bertahap, memperjelas arah kebijakan ekonomi jangka menengah, memperkuat koordinasi fiskal dan moneter, serta memastikan berbagai program strategis nasional memiliki desain yang kredibel dan berkelanjutan.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memulihkan sentimen pasar, memperkuat nilai tukar rupiah, serta menarik arus investasi yang lebih besar.
Di tengah dinamika global yang masih fluktuatif—mulai dari ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, hingga tekanan suku bunga global—kemampuan menjaga stabilitas dinilai sama pentingnya dengan mendorong pertumbuhan.
“Pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak hanya lahir dari stimulus, tetapi juga dari kepercayaan. Ketika rumah tangga percaya untuk belanja, perusahaan percaya untuk berinvestasi, dan investor percaya terhadap arah kebijakan, maka pertumbuhan yang lebih tinggi akan tercipta secara berkelanjutan,” pungkas Fakhrul.
(Sumber : infopublik.id)












