Bandung || Corongkita.com – Gemerlap dunia media sosial (medsos) telah menyilaukan mata para penikmatnya. Seringkali di medsos semuanya terlihat sempurna. Namun, tidak banyak yang tahu cerita di balik layer tentang tekanan, keraguan, hingga proses berdamai dengan diri sendiri.
Kisah itulah yang dengan jujur dibagikan oleh Adinda Thalita seorang Key Opinion Leader (KOL) dalam sebuah sesi di acara Kelas Digital Sahabat Tunas yang digelar di Selah Hall, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026).
Di hadapan para peserta, Adinda tidak tampil sebagai sosok yang “sempurna” seperti yang sering terlihat di media sosial. Ia justru membuka sisi rapuhnya tentang bagaimana dunia digital pernah membuatnya jatuh, sebelum akhirnya membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.
Ia mengawali ceritanya dengan refleksi sederhana: bagaimana cara pandangnya terhadap media sosial telah berubah seiring waktu.
Dulu, seperti kebanyakan orang, ia hanya melihat media sosial sebagai tempat berbagi momen dan mencari hiburan. Namun kini, ia memaknainya lebih dalam. “Sekarang aku lebih mindful. Apa yang aku posting tetap real, tapi ada tujuan di baliknya. Bukan cuma buat hiburan, tapi juga edukasi dan jadi jejak perjalanan hidup,” ujarnya pelan, seolah mengajak audiens ikut merenung.
Bagi Adinda, setiap unggahan adalah cerita. Bukan hanya tentang hari ini, tapi juga tentang bagaimana ia ingin dikenang di masa depan. Ia percaya bahwa media sosial bisa menjadi “arsip kehidupan”—tempat di mana seseorang meninggalkan nilai, bukan sekadar eksistensi.
Sayangnya, ia melihat banyak orang yang masih terjebak dalam siklus tanpa arah. Scroll tanpa henti, ikut tren tanpa makna, hingga kecanduan validasi tanpa benar-benar menciptakan sesuatu yang berarti. “Kadang kita terlalu fokus konsumsi, tapi lupa untuk menciptakan sesuatu yang punya nilai. Padahal, apa yang kita bagikan itu bisa jadi legacy,” katanya.
Namun, perjalanan Adinda sendiri jauh dari kata mulus. Di balik konten-konten yang terlihat ringan, ia pernah menghadapi masa-masa yang cukup berat. Salah satunya adalah saat ia menjadi sasaran komentar negatif yang menyerang fisik.
Komentar-komentar itu, yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, ternyata meninggalkan luka yang nyata. “Aku pernah dikomentari soal fisik, bahkan dapat DM yang nggak sopan. Waktu itu benar-benar kepikiran. Aku nangis, merasa insecure, dan sempat mempertanyakan diri sendiri,” ungkapnya jujur.
Di usia yang lebih muda, emosi sering kali mengambil alih. Ia mengaku sempat ingin membalas komentar-komentar tersebut, ingin membela diri, bahkan membuktikan bahwa ia tidak seperti yang mereka katakan. Tapi waktu mengajarkannya sesuatu yang lebih penting: tidak semua hal harus ditanggapi.
Perlahan, ia belajar untuk melepaskan. Untuk tidak memberi ruang pada suara-suara yang tidak membangun. “Sekarang aku lebih santai. Kalau ada komentar seperti itu, ya sudah. Anggap saja cobaan. Kita juga nggak tahu siapa yang nulis, jadi nggak perlu terlalu dipikirkan,” katanya dengan senyum tipis.
Selain komentar negatif, Adinda juga pernah menghadapi tantangan yang lebih personal—masalah jerawat yang cukup parah di saat ia aktif membuat konten kecantikan. Situasi yang terasa ironis, sekaligus menyakitkan.
Di saat ia dituntut tampil “sempurna”, justru kondisi kulitnya tidak mendukung. Kepercayaan dirinya pun sempat runtuh. “Aku sempat merasa ‘kenapa harus sekarang?’ Apalagi aku bikin konten beauty. Rasanya seperti kehilangan kepercayaan diri,” ceritanya.
Namun, dari titik itu, ia belajar menerima dirinya. Tidak lagi memaksakan standar yang tidak realistis, dan mulai melihat kecantikan dengan cara yang lebih jujur. Ia tetap berkarya—bukan karena sudah sempurna, tapi justru karena berani menunjukkan prosesnya.
Butuh Kematangan Emosional
Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya hari ini. Ia semakin yakin bahwa kematangan emosional adalah hal yang tidak bisa ditawar, terutama bagi generasi muda yang hidup di era digital.
Menurutnya, sebelum aktif membagikan kehidupan di media sosial, seseorang perlu benar-benar siap—bukan hanya secara teknis, tapi juga mental. “Minimal kita sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas apa yang kita posting. Harus bisa memilah mana yang baik, mana yang tidak. Karena sekali kita share, itu bisa dilihat banyak orang,” jelasnya.
Sebagai seorang penyiar radio, Adinda juga memiliki sudut pandang lain yang membuatnya semakin peka. Ia sering menerima cerita dari para pendengarnya—terutama remaja—yang bergulat dengan dampak media sosial.
Ada yang merasa tidak cukup baik karena membandingkan diri, ada yang mengalami masalah hubungan, bahkan ada yang terganggu kesehatan mentalnya akibat tekanan dari dunia digital.
Cerita-cerita itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa media sosial bukan hanya soal konten—tapi juga tentang manusia di baliknya.
Menutup sesi, Adinda menyampaikan pesan yang terasa sederhana, tapi begitu relevan. Ia mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan media sosial sebagai tujuan utama dalam hidup. “Jangan jadikan content creator sebagai tujuan utama. Itu bisa jadi jalan, tapi bukan tujuan. Tetap kejar pendidikan, kejar mimpi kalian,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa media sosial seharusnya menjadi alat—bukan pusat dari segalanya. “Gunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat. Supaya apa yang kita bagikan itu punya nilai, bahkan bisa jadi amal jariah,” tambahnya.
Di akhir sesi, suasana terasa lebih tenang. Bukan karena cerita Adinda memberikan jawaban atas semua masalah, tapi karena ia menghadirkan sesuatu yang lebih penting: kejujuran.
Lewat kisahnya, ia berharap generasi muda bisa melihat media sosial dengan cara yang lebih sehat—tidak mudah terpengaruh, tidak terjebak dalam standar semu, dan yang terpenting, tidak kehilangan diri sendiri. “Di balik semua konten dan layar, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang melihat, tetapi seberapa jujur kita menjadi diri sendiri,” pungkas Adinda.
(Sumber : infopublik.id)












