Lumajang || Corongkita.com – Selama ini kulit pisang kerap dianggap limbah dan berakhir di tempat pembuangan. Namun, penelitian menunjukkan bagian yang sering terabaikan tersebut menyimpan potensi yang dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kesehatan, pangan, hingga bioteknologi.
Potensi tersebut menjadi menarik untuk dikaji, terutama di Kabupaten Lumajang yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi pisang terbesar di Jawa Timur. Komoditas unggulan seperti Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru selama ini telah menjadi bagian penting perekonomian masyarakat sekaligus identitas daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang tahun 2024, produksi pisang di daerah tersebut mencapai sekitar 115,6 ribu ton dari luas areal sekitar 3,1 ribu hektare. Besarnya produksi tersebut juga menghasilkan limbah kulit pisang dalam jumlah yang tidak sedikit.
Salah satu pelopor pengembangan Pisang Mas Kirana di Lumajang, Lili, menilai penelitian mengenai kandungan senyawa aktif pada kulit pisang membuka peluang baru bagi pengembangan komoditas unggulan daerah.
“Selama ini masyarakat mengenal nilai pisang dari buahnya. Kalau sekarang kulitnya juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, tentu ini menjadi peluang yang sangat baik bagi masa depan komoditas pisang di Lumajang,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Menurut Lili, pengembangan sektor pertanian saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari setiap sumber daya yang tersedia.
Potensi kulit pisang tersebut pernah diteliti oleh Dwi Nur Rikhma Sari dan David Kristian Susilo pada 2017 melalui kajian fitokimia terhadap kulit Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru. Hasil penelitian menunjukkan kulit Pisang Mas Kirana mengandung senyawa fenol, saponin, dan terpen. Sementara kulit Pisang Agung Semeru mengandung fenol, saponin, terpen, serta alkaloid.
Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa kulit Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru mengandung metabolit sekunder yang memiliki potensi aktivitas biologis dan layak diteliti lebih lanjut untuk pengembangan berbagai pemanfaatan berbasis bahan alam.
Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan fenol dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba. Saponin berpotensi menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan terpen dan alkaloid banyak menjadi perhatian dalam pengembangan riset kesehatan dan farmasi. Meski demikian, temuan tersebut belum menjadikan kulit pisang sebagai produk kesehatan siap pakai dan masih memerlukan penelitian lanjutan.
Potensi pemanfaatan kulit pisang tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan. Di berbagai daerah, limbah tersebut mulai dikembangkan sebagai bahan baku tepung, sumber antioksidan alami untuk pangan, hingga media fermentasi dalam penelitian bioteknologi.
Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali limbah menjadi produk bernilai tambah. Bagi Lumajang, peluang ini dinilai strategis untuk memperkuat hilirisasi sektor pertanian sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Dengan dukungan riset, inovasi, dan kolaborasi berbagai pihak, setiap bagian tanaman pisang berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Kisah kulit pisang di Lumajang menjadi bukti bahwa potensi besar terkadang justru tersembunyi pada sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.
(Sumber : infopublik.id)












