Kemendag Buka Peluang Ekspor Produk Susu Olahan ke Pasar Global

Jakarta || Corongkita.com – Produk susu olahan Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menembus pasar ekspor, seiring meningkatnya daya saing industri pengolahan susu nasional. Pemerintah pun mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya fokus pada pasar domestik, tetapi mulai memperluas penetrasi ke pasar regional dan global.

Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan Miftah Farid mengatakan, sejumlah produk susu olahan Indonesia telah memiliki daya saing yang cukup kuat untuk dipasarkan di luar negeri. Produk-produk tersebut antara lain yogurt, susu UHT, keju, hingga es krim, yang dinilai memiliki prospek ekspor menjanjikan.

“Kalau pelaku industri susu ingin masuk pasar ekspor, sebenarnya ada beberapa produk yang sudah punya competitiveness tinggi, seperti yogurt, UHT, keju, dan es krim,” ujar Miftah dalam diskusi Hari Susu Nusantara 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, pasar potensial bagi produk susu Indonesia tidak hanya berada di kawasan ASEAN, tetapi juga di negara-negara seperti Timor-Leste, Papua Nugini, hingga sejumlah pasar di Eropa.

Namun, Miftah menegaskan, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk akhir, melainkan juga kesiapan industri dalam memenuhi standar internasional. Untuk itu, terdapat dua faktor utama yang menentukan keberhasilan ekspor produk susu.

Pertama adalah compliance atau kepatuhan terhadap regulasi negara tujuan, termasuk standar keamanan pangan, sertifikasi mutu, dan persyaratan teknis lainnya. Kedua adalah penguatan ekosistem industri dalam negeri, terutama dari sisi ketersediaan dan kualitas bahan baku.

“Kita bicara bahan baku berarti bicara soal pasokan dan kualitas. Tanpa itu, industri akan sulit menjaga konsistensi produk untuk pasar global,” katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan industri susu Indonesia bukan hanya pada hilirisasi, tetapi juga pada penguatan rantai pasok dari hulu. Selama pasokan susu segar nasional masih terbatas, industri akan menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan produksi sekaligus menjaga standar kualitas ekspor.

Untuk mendukung ekspansi pasar, Kementerian Perdagangan mengoptimalkan jaringan promosi dagang internasional. Saat ini, Kemendag memiliki perwakilan perdagangan di 33 negara, baik melalui Atase Perdagangan maupun Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Jaringan tersebut dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha menjangkau pembeli internasional melalui berbagai skema promosi. “Kami bisa bantu melalui pameran, misi dagang, maupun business matching,” ujar Miftah.

Menariknya, promosi dagang kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pertemuan fisik. Kemendag juga mengintensifkan virtual business matching, yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli global secara daring.

Menurut Miftah, skema tersebut terbukti efektif, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang ingin menjajaki pasar ekspor tanpa harus menanggung biaya tinggi untuk mengikuti pameran internasional secara langsung.

“Pelaku usaha tidak harus selalu ikut pameran offline. Sekarang mereka juga bisa engage dengan international buyers melalui business matching virtual,” katanya.

Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat transformasi industri susu nasional, dari yang selama ini berorientasi pada pemenuhan pasar domestik menuju industri bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Jika penguatan hulu, hilirisasi industri, dan strategi ekspor berjalan beriringan, Indonesia berpeluang tidak hanya mengurangi ketergantungan impor susu, tetapi juga membangun ekosistem industri susu yang lebih kompetitif dan berorientasi ekspor.

(Sumber : infopublik.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *