Jakarta || Corongkita.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau 2026 mulai berkembang secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Hingga awal Juni 2026, sebanyak 28,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, meskipun potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem masih terjadi di sejumlah daerah.
Dalam prakiraan cuaca mingguan yang disampaikan BMKG, wilayah yang telah memasuki musim kemarau didominasi kawasan Indonesia bagian selatan. Kondisi tersebut dipengaruhi aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke sebagian wilayah Indonesia sehingga mengurangi pembentukan awan hujan.
BMKG sebelumnya mencatat suhu maksimum lebih dari 35 derajat Celsius pada periode 1–3 Juni 2026 terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Sumatra Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih terjadi di berbagai daerah, terutama di wilayah Indonesia bagian utara. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Utara sebesar 73,3 milimeter per hari, Papua Tengah 72,8 milimeter per hari, Kalimantan Tengah 61,6 milimeter per hari, Kepulauan Bangka Belitung 60 milimeter per hari, Kalimantan Utara 57,4 milimeter per hari, dan Papua Barat 57,1 milimeter per hari.
BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi atmosfer global dan regional masih memberikan pengaruh terhadap pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Fenomena La Nina Condition di Samudra Pasifik terpantau melalui nilai indeks Nino 3.4 sebesar +0,69 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -16. Kondisi tersebut umumnya berpengaruh terhadap berkurangnya potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan berada pada fase 7 hingga 8 dan masih aktif secara spasial di wilayah Papua bagian tengah hingga timur. Selain itu, gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia dengan pergerakan dari barat ke timur. Adapun gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di wilayah Sumatra bagian utara.
BMKG juga mengidentifikasi potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik utara Papua yang memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di sekitar wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat Daya, dan perairan sekitarnya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan cuaca ekstrem.
Sejumlah Wilayah Masih Berpotensi Hujan Ringan hingga Lebat
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, BMKG memprakirakan cuaca pada periode 5–7 Juni 2026 umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat.
Namun, potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang dengan kategori peringatan dini Siaga berpotensi terjadi di Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Sementara itu, pada periode 8–11 Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga lebat. Peringatan dini kategori Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang diprakirakan terjadi di Papua Pegunungan.
BMKG mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, maupun gangguan aktivitas transportasi.
Masyarakat juga diminta untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG melalui kanal informasi resmi guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem serta mendukung kelancaran aktivitas sehari-hari.












