Banten || Corongkita.com – Orang yang kreatif, bisa menikmati suasana krisis ekonomi sekarang ini dengan cara memanfaatkannya untuk belajar mengirit alias efisiensi yang selama ini terlanjur diabaikan. Sehingga sikap dan sifat konsumtif terlanjur menjadi bagian dari pola hidup yang baru dipahami setelah krisis tak kunjung mereda seperti sekarang yang terus melantak dengan sangat keji dan kejam. Minggu (13/10/2024)
Setelah nyaris setahun lebih krisis berat menggasak Indonesia, banyak orang yang sudah merasa tamat menghadapi ujian yang maha berat ini, hingga tak sedikit diantaranya yang menjadi ahli semacam juru lelang. Karena memang tidak sedikit diantara barang dan perabot rumah tangganya sudah dilelang dengan nilai yang lumayan, tidak seburuk yang dia duga sendiri saat hendak melelang sejumlah batang di rumah yang tidak terlalu penting untuk digunakan.
Setidaknya, sejak krisis ekonomi melabrak Indonesia — setidaknya sejak setahun silam — sudah dua kendaraan roda empat yang dibayar oleh dealer dengan harga cukup lumayan, karena tidak terlalu membuat hatinya kecewa. Begitu juga tiga buah sepeda gunung yang tergantung di garasi, nyaris belum pernah digunakan sama sekali, kecuali sekedar saat ikut acara parade sepeda hias setingkat kecamatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah setempat.
Pendek kata, suasana krisis ekonomi yang bergelayutan di Indonesia memang harus dapat dihadapi dengan suasana riang gembira, tidak perlu menjadi penambah beban hidup yang memang sudah semakin sulit dan berat. Suasana riang gembira tetap perlu dijaga — atau bahkan ditingkatkan — seiring dengan meningkatnya soal krisis ekonomi yang semakin genting dan menjadi kecemasan banyak orang.
Krisis ekonomi pasti akan berlalu. Karena itu dibutuhkan ketabahan dan ketangguhan untuk menghadapinya. Ia ibarat musim yang akan selalu berganti. Maka itu kesabaran sangat diperlukan. Dan yang penting, kita bisa lebih banyak belajar dalam suasana krisis sekalipun. Termasuk tentang krisis itu sendiri yang telah mengajarkan kepada setiap orang yang bijak — mau belajar — untuk menghadapi beragam tekanan, utama sikap dan sifat konsumtif yang sesungguhnya tidak lebih baik dari pola hidup berhemat. Sebab yang beragam macam yang dapat kita konsumsi tidak selamanya memberi kebaikan pada diri kita. Untuk makanan misalnya, ada yang justru mendatangkan penyakit bagi tubuh kita. Sedangkan untuk barang merah, toh sudah sering membuat kita lupa diri, setidaknya Ikhwal hidup dan kehidupan itu sendiri, tidak harus merasa lebih baik, lebih kaya atau berlebihan dalam hal yang lain dari mereka yang kita anggap tidak mempunyai apa-apa.
Jadi, menikmati krisis ekonomi dengan riang gembira perlu dicoba dan dilakukan. Sebab krisis itu sendiri seperti Sunna tullah, tak mungkin dihindari. Karenanya harus dihadapi dengan cara yang paling bijak.












