Banyu Bening Bangun Gerakan Konservasi Air Berbasis Komunitas

Sleman || Corongkita.com – Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membangun gerakan konservasi air berbasis masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, pesantren, hingga organisasi lingkungan.

Pendiri Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih atau Bu Ning (58), mengatakan gerakan tersebut berawal dari keresahan terhadap meningkatnya eksploitasi air tanah dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap konservasi air hujan.  “Kami ingin masyarakat memiliki lumbung air sendiri sehingga tidak terus bergantung pada air tanah,” ujar Bu Ning saat ditemui di Komunitas Banyu Bening, Selasa (12/5/2026).

Komunitas Banyu Bening berdiri sejak 2012 dan berkembang menjadi ruang edukasi konservasi air hujan melalui Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang diresmikan pada 9 September 2019. Ketika itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menghadiri peresmian Sekolah Air Hujan Banyu Bening.

Menurut Bu Ning, gerakan tersebut berkembang melalui kolaborasi berbagai pihak. “Dua tahun terakhir kami mendapat dukungan dari Yayasan KEHATI melalui program perubahan iklim,” katanya.

Selain itu, Banyu Bening juga bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam edukasi pengurangan risiko bencana hidrometeorologi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Dinas LH Provinsi DIY maupun Sleman turut memberikan dukungan. Polda DIY maupun Kodim setempat juga pernah terlibat dalam edukasi konservasi air hujan ini. Sejumlah BUMN maupun swasta hingga organisasi kemasyarakatan (NGO) internasional pun turut menyokong gerakan edukasi lingkungan ini.

Teknologi penampungan air hujan dan konsep “lumbung air” yang dikembangkan Banyu Bening kini telah diterapkan di berbagai daerah seperti Gunungkidul, Samarinda, Pekalongan, Makassar, Minahasa, Bandung, hingga Surabaya. Perjuangan Bu Ning dan kawan-kawan Banyu Bening membuat mereka diganjar KEHATI Award pada 2024 dan nominator Penghargaan Kalpataru tingkat nasional tahun 2022.

Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin (60), mengatakan gerakan tersebut juga melibatkan sekolah, sanggar budaya, dan pesantren untuk membangun pendidikan karakter anak. “Anak-anak belajar bahasa Jawa, tari, budaya, sekaligus pembiasaan hidup ramah lingkungan,” ujarnya.

Menurut Kamaludin, pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam gerakan konservasi air. “Kami ingin anak-anak tetap dekat dengan budaya, gotong royong, dan lingkungan di tengah derasnya dunia digital,” katanya.

Selain menjadi pusat edukasi, Banyu Bening juga menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat dari berbagai daerah yang ingin mempelajari pengelolaan air hujan berbasis komunitas.”Silakan siapa pun datang belajar di sini. Kami ingin gerakan ini tetap menjadi ruang bersama untuk masyarakat,” tutur Kamaludin.

Kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, sekolah, NGO, budayawan serta komunitas terus dirawat melalui Kenduri Air Hujan yang digelar setiap September sekaligus memeringati kelahiran Komunitas Banyu Bening.

(Sumber : infopublik.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *