Jakarta || Corongkita.com – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan bahwa alokasi biaya konsumsi untuk satu seorang haji 1447 Hijriah/2026 Masehi di Tanah Suci sebesar 40 Riyal (SAR) atau sekitar Rp180 ribu per hari.
Ia membeberkan secara rinci satuan harga katering atau biaya makan bagi jamaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci agar publik, khususnya jamaah, memahami hak yang seharusnya mereka terima.
Biaya konsumsi 40 Riyal per hari tersebut mencakup tiga kali makan dengan rincian pembagian yang spesifik. ”Kami buka semuanya, misalnya terkait dengan katering, berapa harga katering? Satu hari itu sekitar 40 Riyal,” ujar Wamenhaj, Senin (19/1/2026).
Ia merinci dari 40 Riyal tersebut, alokasinya dibagi menjadi 10 Riyal untuk makan pagi, sementara makan siang dan makan malam masing-masing dianggarkan sebesar 15 Riyal.
Wamenhaj menyoroti adanya efisiensi harga dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk makan siang dan malam yang dulunya dipatok seharga 17 Riyal, kini berhasil ditekan menjadi 15 Riyal.
Penurunan harga tersebut diklaim sebagai bentuk negosiasi dan efisiensi yang luar biasa tanpa mengurangi standar kualitas. Pemerintah menegaskan bahwa meski harga turun, spesifikasi makanan, nilai gizi, dan gramasi atau berat porsi tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikurangi sedikit pun oleh pihak penyedia katering (masyariq). Transparansi tersebut tidak hanya berlaku pada sektor konsumsi.
Wamenhaj menegaskan bahwa biaya akomodasi, termasuk standar hotel yang digunakan jamaah juga dibuka datanya kepada publik.
Tujuannya adalah menciptakan ekosistem haji yang terbuka. Dengan mengetahui harga modal yang dikeluarkan pemerintah, jamaah haji dapat mengukur kelayakan layanan yang mereka terima di lapangan.
”Jamaah juga harus tahu, sehingga mereka paham haknya, paham juga kewajibannya. Oleh sebab itu, kita ingin semua pihak terlibat supaya saling kontrol satu dengan lainnya,” ujar Wamenhaj.
Kebijakan buka-bukaan harga tersebut diharapkan dapat meminimalisasi potensi penyelewengan dana umat serta memastikan penyedia layanan di Arab Saudi tidak main-main dalam melayani tamu Allah.
(Sumber : TBNews)
(Foto : Antara)












